Tapi kan orang gatau

Dari pertama kenal sama keluarga suami di tahun 2021, keluarga suami punya kebiasaan untuk berkunjung dan menginap di rumah Cijantung ketika idul fitri. Karena memang mereka punya rumah disana, dan karena bapak mertua punya saudara disana. Kebiasaan ini terus berlanjut sampai tahun 2025. 

Di 2026, mereka tidak berkunjung kerumah disana, hanya main ke rumah saudara, tidak menginap. Jangankan menginap, singgah sebentar pun tidak.

Padahal kami (saya dan suami) sudah menyiapkan segala hal untuk menyambut kedatangan mereka. Rumah mewah itu sudah dibersihkan selama 2 hari, makanan sudah tersedia di lantai atas dan bawah. Tissue, air untuk tamu.

Jujur, saat itu memang saya heran, rumah saudara yang kami kunjungi melewati rumah Cijantung, tapi saat itu saya positif thinking, mungkin memang ibu sedang malas untuk membungkus dan membawa makanan dirumah Cakung untuk dibawa ke rumah Cijantung.

Beberapa waktu kemudian baru tau alasannya. 

Kunjungan terakhir bapak dan ibu ke rumah itu ternyata membuat sakit hati bapak, bapak merasa kami tidak menyambut mereka sesuai dengan yang mereka harapkan, dan kalau diingat, memang benar. 

Di kunjungan yang ibu bapak maksud, sikap saya memang kurang enak. Saya tidak menyiapkan minuman, tidak bertanya "bapak dan ibu mau minum apa" ngobrol pun hanya sekedarnya.

Yang bapak dan ibu ngga tau:

Agenda kami ke rumah Cijantung dalam seminggu hanya di weekend, weekdays kami habiskan di rumah mertua. 

Minggu lalu, kami tidak ke rumah Cijantung karena mengantar bapak dan ibu kerumah lek yang sakit.

2 minggu tidak ditengok, debunya bukan main. 

Minggu lalu tidak kerumah Cijantung karena mengantar bapak dan ibu, minggu ini bapak dan ibu main ke rumah Cijantung.

Kami baru istirahat sebentar, rumah kami bersihkan seadanya, mereka datang. 

Pikiran ini dipenuhi bermacam hal. 

"kenapa kok untuk bisa family time rasanya sulit"

"rumah masih kurang bersih, rasanya ngga pantas"

"tubuh ini lelah, senin-jumat kerja, sabtu minggu harus beberes rumah besar yang lebih sering ditinggal daripada ditempati"

Impactnya sikap saya kurang dalam menyambut mereka. 

Tapi kan mereka ngga tau. 

Seperti ketika saya menutup pintu saat ada pacar main ke rumah (sebelum menikah).  Ternyata ada omongan macam-macam tentang itu. Padahal saya menutup pintu karena di teras banyak nyamuk, habis hujan juga, teras becek, untuk makan ngga enak. Saya ngga melakukan hal lain selain makan berdua. 

Tapi kan orang gatau. 

Mereka sibuk dengan asumsi mereka sendiri. 

Aset

Sebagai anak yang tumbuh di keluarga yang tidak punya rumah sendiri sebagai tempat tinggal, buat gue rumah itu adalah sebuah hal mewah.
Waktu smp, sebagian besar teman gue hidup di kontrakan, banyak dari kami senasib. Bahkan ketika itu ngga jarang gue merasa bersyukur karena kontrakan teman gue adalah kontrakan sepetak yang letaknya masuk ke dalam gang, sementara rumah yg gue tempati adalah rumah dinas nyokap yang halamannya lumayan luas.
Tapi ketika sma, sebagian besar teman gue berasal dari keluarga menengah ke atas. Sebagian besar dari mereka tinggal di rumah yang dimiliki orangtua mereka, bukan kontrakan, bukan rumah dinas.
Maka ketika ada laki-laki yang mendekat dengan “value”, orangtuanya sudah menyiapkan rumah untuk anaknya, hal itu secara ngga langsung membuat gue silau. 
Nyokap gue sendiri baru tinggal di rumah milik dia setelah gue menikah. Setelah bertahun tahun ngontrak atau tinggal di rumah dinas.
Kalau kakak gue, ketika awal menikah, kami mengantar kakak ke rumah kontrakannya, dalamnya jauh dari siap. Entah apa yang di pikiran kakak gue, sehabis mengantar kakak, nyokap nangis.
Setelah itu, kakak tinggal di apartemen yg nyokap beli. Nyokap ngga pernah ngusik cara kakak gue tinggal disana, tidak pernah mengomentari harusnya begini begitu.
Gue kira semua orangtua begitu.
Tapi ternyata ada tipikal orangtua yang “menuntut”
“Gue udah kasih rumah, dirawat dong rumahnya.”
“Kalian enak habis nikah sudah ada tempat tinggal, ngga seperti kami dulu.”

Bapak ibu yang saya hormati.
Saya bersyukur, sungguh memang saya akui posisi saya sangat nyaman kala itu, rumah sudah ada, full furnished. Mengeluh pun rasanya malu.
Tapi….
Rumah mewah itu hanya kami tempati saat weekend atau libur karena tempat kerja yang jauh.
Rumah yang jarang ditempati ternyata lebih rawan rusak ya, orang-orang bilangnya begitu, ngga ada hawa kehidupan bisa membuat rumah cepat rusak.
Ada juga bagian rumah yang dari awal kami datang sudah rusak, dibetulkan rusak lagi. Entah apa yang salah.
Rumah besar ternyata biaya listrik juga besar. Dalam sebulan kami menempati rumah itu hanya di waktu libur/weekend, tapi tagihan listriknya seperti tinggal sebulan di rumah umumnya (perihal listrik ini, teman yang saya ceritakan pun kaget).
Kami capek. Tiap datang, rumah pasti dalam keadaan kotor. Kami kerja di senin-jumat, dan harus membersihkan rumah mewah itu di hari sabtu-minggu. Belum lagi jika kalian berkunjung lalu berharap dijamu sedemikian rupa, belum lagi kekecewaan kalian dengan rumah yang tidak sesuai dengan ekspektasi kalian.
Tapi ya bagaimana, kami jarang menempati rumah ini, lebih banyak kami tinggal disana tempat kalian, dekat tempat kerja kami.
Kenapa sih kalian lebih pilih tinggal di rumah yang dekat dengan tempat kerja kami? Padahal kalian punya rumah mewah yang kalian bangga banggakan ini? Rumah yang kami ngga sanggup urus.

Why I’m Afraid of People

Di umur memasuki kepala 3, dengan profesi yang mengharuskan bertemu dengan banyak orang, sebetulnya malu juga untuk mengakui bahwa gue sampai saat ini takut sama orang.

Rasa-rasanya dari kecil, banyak banget perkataan/perbuatan orang yang nyakitin. Bahkan ngga jarang hal tersebut berasal dari orang yang tadinya kita percaya.

Seperti hari ini, someone just said:

“Trauma nih anaknya, jadi lengket banget sama maminya. Bisa tidur kamu kemarin ninggalin anak begitu?”

It hurts me, dia udah pasti tau jawabannya.

Ngga ada ibu yang dengan senang hati meninggalkan anaknya kalau bukan karena suatu hal yang pelik banget.

Even kalau anak gue tadi lengket ke bapaknya, gue yakin dari mulut dia bakal keluar kalimat

“Nah kan lebih lengket sama bapaknya, ibunya sih pake segala ninggalin anaknya”

Selalu ada cara untuk memojokkan/menyalahkan seseorang.

Sama seperti selalu ada cara untuk melihat dari sisi lain.

Dan bodohnya, gue cuma bisa diam, ngga bisa langsung nge counter saat itu juga. Tapi memang serba salah sih, di counter juga pasti nanti dianggap ga sopan sama orangtua.

Saya masih butuh waktu mencerna semua ini. Ini bukan hal mudah.

Memang manusia tuh jahat ya.

Semoga Allah menjaga saya dari menyakiti orang lain.

10 Tahun

April 2026.

Di bulan dan tahun ini ternyata masih banyak keinginan yang belum tercapai, juga dengan ketakutan-ketakutan yang entah akan terjadi atau hanya berakhir menjadi skenario di kepala.

2016, 10 tahun lalu. 

Di bulan April 2016 mungkin ketakutan terbesar gue adalah sidang skripsi, mau kaya teman yang lulus 3,5 tahun udah ngga mungkin karena mereka sudah wisuda di bulan Maret. Cuma mau lulus tepat waktu biar ngga nyusahin orang tua, biar bisa wisuda bareng teman-teman. Tapi takut. Takut revisi, takut sidang, takut kalah sama diri sendiri. 

Bulan September 2016 jadi salah satu momen besar di hidup gue. Wisuda sarjana. Ketakutannya berubah. Kali ini takut ngga dapet kerja, takut ngga dapet jodoh.

Lalu kerja, ketakutannya berubah lagi, begitupun keinginannya. 

Menikah, ketakutannya berubah lagi, begitupun keinginannya.

Padahal kalau dipikir-pikir, hidup polanya gitu-gitu aja ya. Kita achieve something in live, tapi pencapaian tersebut ternyata sepakat dengan masalah, lalu timbul ketakutan-ketakutan yang kadang jadi nyata, kadang hanya di kepala.

Tapi kenapa ya diri ini seperti orang bodoh yang ngga pernah belajar. 

Untuk lebih menikmati hidup, untuk paham bahwa masalah itu ya bagian dari hidup. 

Jadi inget salah satu quotes dari twitter.

"untuk apa takut? Toh hal buruk PASTI akan terjadi"

Fragile

Hidup itu ternyata fragile banget ya. Rapuh, ngga bisa diprediksi. 

Orang yang kita kira baik ternyata di kemudian hari jadi orang yang membuat hidup kita makin sulit.

Orang yang tadinya kita ngga suka malah jadi sahabat dekat. 

Kondisi-kondisi yang meleset dari prediksi kita. 

Bener-bener ngga ada yang tau apa yang akan terjadi di kemudian hari, jam atau bahkan detik. 

Kita kira kita akan siap, ternyata kita ngga pernah benar-benar siap. 

Jangankan kondisi di luar, diri sendiri aja ngga ketebak.

Maunya dibawa happy, tapi terlintas hal yang bikin kita ngga happy. 

Lagi pengen marah sama hidup, tapi kemudian ingat, marah pun ngga ngubah apa-apa.

Gue harap gue bisa lebih happy lagi menjalani hidup yang fragile ini, lebih positif thinking, lebih less overthinking. 

Btw happy birthday to me. 31 isnt that old right? 


Voices in my head (pattern didn't lie)

Di usia 30 ini rasanya hampir semua quotes yang gue temui itu adalah quotes yang udah pernah gue baca sebelumnya.

Dulu, pertama kali baca suatu quotes hampir selalu respon gue adalah "wah", "ih bener nih", "ih keren quotesnya".

Sekarang, hampir tiap baca quotes-quotes itu respon gue "alah tai"

Mungkin karena banyak quotes yang isinya kata-kata indah yang meromantisasi suatu keadaan secara berlebihan, padahal hidup tuh ngga semudah quotes-quotes itu. Seringnya hidup ya kaya tai. Hidup gue sih.

Tapi gue pernah nemu sebuah bacaan, yang pada intinya ngasi tau kalau pattern didn't lie. Kata-kata yang keluar dari mulut seseorang ngga bisa jadi tolak ukur, tapi pola seseorang bisa jadi penilaian. Karena pattern atau pola itu terbentuk dari tingkah laku yang berulang kali dilakukan, jadi sebuah kebiasaan, jadi sebuah karakter.

Memasuki tahun ke 5 pernikahan, rasanya bukan makin kenal, pasangan gue justru berubah jadi sosok yang makin asing. Rasanya tiap hari membatin "I didn't married this guy".

Tapi lalu gue teringat bagaimana sikapnya dulu di awal-awal kita kenal.

Dia memang ngga pernah menunjukkan rasa ketertarikan ketika itu. 

Dia ngga datang saat bokap kandung gue meninggal, padahal kemarin ada istri teman yang meninggal malam-malam, tanpa pikir panjang dia datang melayat malam itu juga.

Waktu pertama kita naik gunung bareng, dia ngga ada perhatian-perhatiannya.

Ketika kami lumayan dekat dan ada masalah kecil, dia dengan santainya bonceng teman wanita lain disaat bisa aja dia milih bonceng gue. Sepele, tapi terlihat ngga ada effortnya. 

Dia lebih milih nganter cewek lain beli laptop dibanding nemenin gue cuci mobil. Alasannya karena sudah janji ke cewek itu dari jauh hari, tapi kamu juga janji kan mau nemenin aku nyuci mobil. 

Pola-pola yang bikin gue membatin "kenapa kaget sama sikapnya sekarang? Toh dari dulu memang dia ngga nunjukin tanda sayang"

Kamu emang ngga cinta kan sama aku? 

Voices in my head (part 1)

Akhir-akhir ini suara di kepala lagi rame banget. Hari ini ngeributin a, besok b, besok c. Kadang yang udah disuarain hari ini muncul lagi 2 hari atau 3 hari kemudian. Jadi mau nulis disini sekalian mengurai apa aja sih yang diberisikin di kepala.

Kenapa harus bilang ke mama?

Beberapa hal yang membuat gue mikir kalau mertua gue ngga sebaik yang orang-orang bilang, beberapa di antaranya dari apa yang gue rasakan, ada juga dari omongan orang yang pernah momong anak gue, tapi yang satu ini kayanya ngga bakal bisa gue lupain deh.

Jadi memang ada momen ketika ibu mertua gue ini ribet karena mobil. Mobil mertua ini mobil tua yang udah lebih dari 10 tahun, bapak mertua udah ngga bisa bawa lagi karena matanya. Jadi kebanyakan mobil  ini ngga dipake, beberapa kali malah pakenya mobil adeknya ibu mertua (lek).

Sementara itu, mobil ini walaupun ngga dipake, pajak tahunan tetap jalan, servis juga. Itu aja akinya rusak karena ngga dipake pake.

Maka, ngga aneh dong kalau keluar usulan dari gue "mobilnya dijual aja, daripada bayar pajak dan servis terus, pajak mobil juga setahun lumayan, bisa 5 jutaan."

And she complains a lot tentang pajak dan servis.

Ya minta laki gue ngurusin pajak supaya pajaknya bisa turun.

Ya aki rusak nyalahin laki gue lah karena ngga mau bantuin orangtua ngurus mobil.

Lalu ujung ujungnya gue kena juga. Ya guelah ngelarang laki gue buat gerak, ya salah guelah ngga ngingetin laki gue.

Padahal ngga pernah gue ngelarang-larang laki gue buat berbuat ini itu, apalagi buat bantu orangtuanya. It much better daripada ngeliat dia main game terus. Tapi kan emang laki guenya yang begitu.

Lalu keluarlah usulan untuk jual mobil dari gue, gue bilang ke laki gue, laki gue bilang ke bapak mertua, bapak mertua setuju, bapak mertua bilang ke ibu mertua, ngga setuju, katanya adeknya laki gue yang abk suka nanyain mobilnya itu.

Lalu reaksi gue: Yaudah.

Ibu mertua gue ngga setuju, yaudah, gue ngga maksa,  gue bukan menantu jahat yang mau menguasai harta mertuanya, bukan orang bodoh yang ngga bisa dibilangin. Gue paham.

Tapi beberapa waktu kemudian, lamaaa setelah gue mengeluarkan usulan itu, ketika laki gue berulah, mertua gue whatsapp nyokap gue yang intinya.

"Jangan nyuruh orang jual mobil. Mobil juga yang bayar pajak saya, yang bayar servis saya, ngapain nyuruh-nyuruh orang jual mobil."

No, I wont forget this.

Things I shouldn't buy a lot

Rasa rasanya semakin banyak platform jual beli, seiring dengan mudahnya membeli sesuatu, makin konsumtif pula manusia. 
Yang awalnya mau scroll sosmed, liat iklan, tergiur, klik klik klik, pembayaran selesai.
Padahal pas barangnya sampe baru mikir, kayanya ngga butuh butuh amat sama ni barang. 
Kalo untuk gue, gue mencoba untuk ngga membeli lagi barang-barang berikut:

1. Jam tangan
I have 5 watches already, 1 smartwatch, 4 jam biasa. Ada yang dari tahun 2013 dan masih berfungsi dengan sangat baik. Ngga perlu banget sih buat nambah lagi.

2. Kacamata
Kayanya kalo ga salah, gue punya 4 kacamata dengan minus yang sama. Tapi untuk kacamata ini sebetulnya agak bingung juga, karena ada 1 kacamata yang gue pake daily, karena enak, pas. Naaah, dari awal gue pake kacamata, dari sekian kacamata yang gue coba, gue baru nemu kacamata yang enak tuh baru ini. Kaya pas aja gitu, coba seandainya gue stuck di 1 kacamata aja, mungkin gue akan stuck di kacamata yang ngga enak dipake. Tapi untuk sekarang memang ngga ada urgensi untuk beli kacamata baru sih, toh yang sering gue pake juga belom ada setahun. 
Tapi ya, sampai sekarang gue masih gatau, masih bingung milih kacamata yang enak dipake, karena meskipun udah dicoba langsung di optik, eh pas dipake sehari hari baru berasa ngga enaknya, ya gampang melorot lah, gampang berembun, tangkainya rapuh, ternyata di muka itu kacamata kegedean. Hal-hal kaya gitu kan ngga ketauan ketika nyoba di optik, karena di optik nyoba ya cuma sebentar.

3. Baju
Ini yang paling susah, nahan buat ngga beli baju. Entah itu baju kerja atau baju main. Apalagi trend kan berubah ubah ya, kalo lagi ngetrend model apa, rasanya kepengen aja beli. Fomo? Mungkin. Padahal baju kerja paling dipake sekali seminggu, apalagi baju main, belum tentu dalam seminggu kepake tuh baju.

4. Minyak wangi
Gue tuh seneng kalo ada orang lewat, terus wangi gitu, dibilang cantik dan wangi tuh heppy banget rasanya. Oleh karena itu, nahan untuk ngga beli minyak wangi termasuk sulit buat gue. Gue tuh maunya pake dulu 1 minyak wangi, kalau mau habis baru beli lagi. Tapi suka tergiur kalau ada orang promosi, yang berkedok cerita, padahal mah lagi jualan. Padahal harusnya minyak wangi itu bisa jadi signature, ciri khas seseorang. Ga perlu lah nyoba nyoba parfum ini itu kalau udah nemu yang sreg.
Tapi sekarang gue belum nemu yang klik banget. 
Tapi at least bisa nahan untuk ngga beli minyak wangi (terakhir beli bulan juli)
Yuk bisa yuk diabisin dulu minyak wangi yang ada.

5. Botol minum
Botol minum gue udah banyak banget, walaupun sebagian besar didapat dari hadiah. Padahal 2 botol udah cukup banget sih, 1 untuk botol air putih, 1 untuk air panas atau dingin, tapi gatau kenapa suka tergiur mau beli botol minum baru. Arrggggh

Itu sih, 5 hal yang kudu mikir-mikir lagi seandainya mau beli lagi. Ngga urgent untuk dibeli, tapi kalau khilaf ada aja pembenarannya, ya self reward, limited item, uang bisa dicari lagi. Padahal ngga butuhhhhhh, padahal masih banyakkk. 

Luka Masa Lalu

Kayanya benar kalau saya orang yang ngga punya prinsip. 

Di tahun 2019 bapak kandung saya meninggal, lupa tanggal persisnya, yang saya ingat itu hari jumat, hari terakhir sekolah, ketika bagi raport dan ada acara kelulusan kelas 6.

Hectic ya kedengarannya?

Makanya saya maklum ketika saat itu ngga ada rekan kerja saya yang melayat ke rumah bapak saya. 

Yang saya ingat, saya disana sampai sekitar jam 2 siang, penguburan dilakukan setelah solat jumat. 

Saat itu saya maklum jika tidak ada rekan kerja saya yang melayat.

Saya ngga tinggal sama bapak kandung saya, rumah bapak kandung saya di bekasi. 
Sekolah lagi ada acara. 
Saya ngga akrab dengan bapak kandung saya. 

Time flies, bapaknya rekan kerja saya ada yang meninggal.
Sama-sama di bekasi, tetapi rumahnya lebih jauh dari sekolah daripada rumah bapak kandung saya.
Meninggal di hari libur sekolah.  
Ada perwakilan sekolah yang datang. 

Lalu ada lagi teman sekolah yang bapaknya meninggal.
Mantan rekan kerja sih, karena sekarang sudah beda sekolah. 
Jenazah bapaknya ada di rumah duka, perwakilan sekolah kesana naik motor. 

Ada lagi yang mertuanya meninggal. Mertua, bukan bapak kandung. 
Jenazah ada di rumah duka, rumah duka ya cukup jauh, perwakilan sekolah ke rumah duka dengan menyewa angkot. 

Ada yang istrinya meninggal malam hari, malam itu juga perwakilan sekolah datang ketempat duka. 

Ternyata bukan masalah jarak. 
Bukan juga masalah waktu. 

Kemungkinan besar karena saya. Saya yang ngga bisa bersikap friendly, saya yang ngga dekat sama siapa-siapa. 

Kalau ingat itu saya benci sama teman kerja saya. 

Tapi saya menikahi salah satu teman kerja saya. 

Ya, saya memang ngga berprinsip. 

Berprinsip katanya

Hari ini kami ngobrol lumayan banyak. Sebetulnya masih takut ngobrol sama dia, takut salah ngomong, takut dengan nada bicaranya yang kaya orang marah.

Di tempat kerja kami ada sebuah insiden, terkait perlakuan yang lebih muda ke yang lebih tua. Kami sepakat kalau si anak muda yang salah, kelakuannya sudah kelewatan.

Dia bilang, si anak muda ini sampai sekarang bersikukuh dan tetap pada pendiriannya kalau dia ngga salah. Dia bingung sama pola pikir anak muda ini. 

Saya bilang, "saya takut kalau harus jadi pimpinan, takut apa yang saya katakan atau lakukan bisa membuat seseorang sakit hati"

Dia bilang kalau itu sudah konsekuensi seorang pimpinan. Pasti ada yang ngga suka, yang penting seorang pimpinan harus punya prinsip.

Dia benci sekali dengan pimpinan kami sebelumnya. Menurut dia, pimpinan yang kemarin orangnya gampang dihasut, ngga punya prinsip. 

Padahal setiap kali saya tanya, tindakan apa yang akan kamu ambil sebagai pimpinan kalau kasus yang sama terjadi? Jawabannya juga ngga bagus.

Tahi kucing lah sama omongan kamu tentang prinsip. Kamu itu bukan orang berprinsip. Kamu orang egois. Ngga peduli perasaan orang lain, tapi orang lain harus peduli dengan perasaan kamu, dengan egomu yang serapuh itu.

Monyet kamu. 

Aku, donor darah dan kadar hemoglobin

Per tahun 2025 ini udah 16 kali gue donor darah. Menyenangkan rasanya setelah donor darah.

Permasalahannya adalah akhir-akhir ini, gue gagal saat mau donor darah di tahap skrining hemoglobin.

Terakhir gagal, gue puasa minum kopi 3 hari ditambah makan buah naga dan vit etabion, selama 3 hari itu. It works.

Lalu di donor yang ke 17 ini gue mau pake cara yang sama kaya yang gue tulis di atas. Tapi ternyata susahhhh banget buat puasa kopi. Alhasil puasa kopi ngga dilakukan, cuma nyoba dengan nambah asupan buah naga tiap hari.

Hasilnya? Gagal. Huhu

Tapi hidup kan memang perlu experimen ya.

Target gue donor darah lagi hari selasa, 26 Agustus, dengan cara puasa kopi dari jumat-senin dan minum vitamin etabion tiap hari.

Wish me luck dengan experimen kali ini ya. 

Do we need all this stuff?

Waktu kecil dulu, gue inget beberapa kali nyokap beli barang yang diiklanin di tv. Wajan anti lengket yang bisa bikin daging empuk tanpa bersusah payah, korset yang bisa buat perut kecil seketika, alat kesehatan dengan klaim ya yang wah.

But, that it. Di kala itu, iklan sebatas dari tv, hiburan dari tv, berita dari tv, koran, radio. Life seems so simpel. 

Lalu hp yang awalnya menjadi barang mewah yang hanya dimiliki segelintir orang berubah menjadi barang murah yang hampir dipunya semua orang, bahkan ngga jarang yang punya lebih dari satu.

Sumber iklan ngga lagi hanya bersumber dari tv, radio, dan koran semata. Sumber iklan banyak dari hp.

Satu sumber memang. Hp. 

Tapi di hp dengan internetnya, kita bisa melakukan banyak hal, bisa dapat banyak hal.

Kemudian manusia jadi konsumtif, barang-barang yang sebenarnya kita ngga perlu-perlu amat bisa ada di rumah hanya dengan beberapa kali klik di hp.

Baju yang di lemari bahkan masih ada yang belum dipakai, jam tangan 5 tahun lalu masih berfungsi sangat baik, aksesoris-aksesoris rumah yang berakhir menumpuk.

Hal-hal makin membuat hidup ini sesak. Dibuang sayang, disimpan tiada guna.

Bagaimana manusia bisa beradaptasi dengan kemajuan zaman ini ya? 

Life just getting more complicated

Waktu SMA gue punya teman ekskul, 2 orang, sebutlah A dan E. 
A dan E ini lumayan dekat sih kalau sepenglihatan gue, mereka dari 1 SMP yang sama, mereka berdua aktif banget promosiin ekskul sampai gue akhirnya masuk ke ekskul yang mereka promosiin. 

A dengan sikap ke "easy going" annya, E dengan sikap "easy going" dan tampangnya yang bisa bikin laki-laki manapun jadi bersikap baik. Hal-hal yang gue ga punya.
Persahabatan mereka seems so good, sampai ketika kami kelas 3, ketika E ulangtahun. 

Bermaksud untuk ngasih surprise ke E yang sedang ulangtahun, gue dan teman se ekskul pun beli kue dan ke rumah E untuk merayakan ultah dia. 

Sesampainya disana kami ngga bertemu dengan orangtua E, sikap atau ekspresi E pun bukan seperti orang yang senang mendapat surprise, lebih ke takut. 

E bilang kami ngga boleh berisik, orangtuanya ada, tapi disana kami ngga ketemu. Kami ngga berlama lama disana, E minta supaya kami kumpul-kumpulnya di lain tempat.

Ada yang janggal ngga? Di saat itu gue ngga mikir apa-apa. Di pikiran gue, mungkin orangtua E ngga suka berisik.

Sampai suatu hari A cerita.

E dan A memang dekat sejak SMP, di SMA pun mereka duduk sebangku ketika kelas 7. Ngga ada yang salah dengan E, yang salah justru dari orangtuanya. 

Orangtua E seperti membedakan perlakuan dengan teman-teman E. Ada teman yang disambut dengan ramah, ada yang dicuekin seperti kami kemarin. Rupa-rupanya ada kriteria tertentu yang ditetapkan oleh orangtua E dalam hal pertemanan anaknya.

Disaat itu gue merasa bingung. Aneh. Nyokap gue ngga pernah kaya gitu, orangtua teman-teman gue yang lain selalu baik tiap kali gue main ke rumah mereka. Kok perlakuan orangtua E ini seakan gue ngajak E ngelakuin hal buruk yang diluar norma?

Kami mendapat perlakukan tidak hangat dari orangtua E karena kami dianggap tidak selevel. Teman kami mendapat perlakuan hangat karena dianggap selevel atau punya level lebih tinggi.

Ternyata menjadi dewasa, tau mana baik mana buruk, tidak serta merta menjadikan kita orang baik. 

Terakhir gue lihat, sekarang E hidup bahagia dengan laki-laki yang ketika SMA ngejar-ngejar E banget, yang ketika itu selalu ditolak E karena dia ngga suka, padahal orangtua E setuju pake banget sama lelaki ini. Pilihan orangtua memang ngga pernah salah. 

Padahal orangtuanya begitu ya. Apa memang perlu begitu ya??? 

Kegiatan Orang Dewasa

Waktu gue masih SMA, ada dua orang senior ekskul yang deket banget. Not in romantic ways, tapi emang kelihatan dekat banget.

Gue inget banget, salah satu kegiatan yang lumayan sering mereka lakukan adalah nyetir ke puncak sekedar untuk ngopi atau makan jagung bakar, lalu pulang.

Saat itu gue dengan otak anak SMA gue berpikir kalau itu kegiatan ngga penting banget, kaya ngga ada kerjaan aja ni senior gue dua.

Time flies, akhirnya gue merasakan berada di usia dewasa seperti senior ekskul gue kala itu. 

Sekarang gue paham, melelahkan ya jadi orang dewasa. Otak terus terusan diajak berpikir, melakukan hal yang sama (kerja) setiap hari, dan kita tuh butuh banget short escape kaya gitu.

Pensiun dan perpisahan-perpisahan lainnya

Tanggal 30 July kemarin, kepsek tempat gue ngajar ulangtahun ke 60.
Sesuai aturan, usia pensiun guru (termasuk kepsek) adalah 60 tahun.
Artinya bulan ini adalah bulan terakhir kepsek gue bekerja. 
Gue ngga deket-deket banget sama kepsek ini, bahkan gue yakin kalau ada penugasan nama gue bukan nama pertama yang muncul di kepala beliau. Tapi perpisahan selalu membawa perasaan yang aneh buat gue.
Waktu perayaan ulangtahun, air mata gue mengalir.
Sama halnya ketika perpisahan murid kelas 6, ada murid yang orangtuanya ngga bisa datang ke perpisahan, disitu juga air mata gue mengalir. 
Sedih? Ngga tau.
Yang jelas, perpisahan menimbulkan pemikiran-pemikiran seperti:
"Kalau orang biasa kerja, lalu pensiun, berasa gabut banget gasih?"
"Hmmm 60 tahun ya, masih ada puluhan tahun lagi"
"Bisa ngga ya, kita semua ngalamin pensiun 60 tahun?"

Random lah pokoknya. Mosf of the time, I dont understand myself. 

Tahun Ajaran Baru

Hari senin nanti udah masuk tahun ajaran baru. Beberapa tahun jadi wali kelas, tiap tahun ganti kelas, dari yang excited, jadi yang b aja.


Engga deng, di pergantian kelas tahun ini, ada rasa khawatir di diri gue, takut.

Karena beberapa tahun terakhir, di kelas yang gue pegang, gue selalu ketemu sama orangtua yang rada-rada. Dua tahun sebelumnya gue ketemu anak yang bapaknya temen sd gue, ketika gue menyampaikan problem anak ini ke bapaknya, yang mana temen gue, emaknya kesal, dia bilang ngga usah melibatkan bapaknya, bapaknya ngga biayain anaknya. Tapi ibunya udah beberapa kali dihubungi, ngga ada respon, anaknya ngga ada perubahan.

Tahun lalu ada lagi ketemu orangtua yang rada-rada. Diinfokan kalau anaknya ngga punya pensil warna sehingga pinjam terus ke teman. Marahnya kaya apa tau, dibilang lah gurunya hanya menginfokan yang jelek jelek. Padahal ngasih taunya juga japri, ngga di grup. Anaknya memang sering bermasalah, mbok ya dikasih tau ke orangtua kan biar anaknya tuh jadi bener. Kalo kaya tadi,  udah berkali-kali minjem alat tulis ke teman, misal temannya ngadu ke orangtua apa ngga jadi panjang?

"crayon aku cepet abis karena dipinjem mulu sama si ini"

Apa ga ribut tu orangtua? Lagian crayon kan bisa dipake sampe kelas selanjutnya, ngga sekali beli abis. Anak ini pun orangtuanya kerja, jadi tkw. Ibu jauh-jauh jadi tkw buat apasih? katanya buat anak? Kok kebutuhan anaknya ngga mau dipenuhi?

Tapi ya gapapa juga sih sebetulnya kalau si ibu ini gamau atau gabisa beliin crayon.Bisa gue beliin. Tapi ya kenapa harus marah-marah sih pas diinfokan kekurangan anaknya?

Ada kesamaan dari 2 kasus di atas. Orangtua sama-sama ngga suka diberitakan hal negatif dari anaknya. Terus berarti di tahun ajaran ini gue harus lebih cuek ya? Ngajar mah ngajar sesuai tugas, masalah itu anak ada yang bermasalah  ini itu, kita bodoamat aja, gausah ngasih tau ke orangtua. Toh mereka senengnya dapet info yang happy happy aja. Iya kan?

Jadi wali kelas

It has been a long time since my last post doesnt it? Terakhir nulis di blog ini 2021, artinya di tahun 2022, setahun full ngga nulis di blog.

Sebetulnya bukan ngga mau nulis, ada banyak cerita yang mau disharing disini, cuma waktunya ngga sempet, marriage life kinda confusing and it takes time to getting used to it.

Perjalanan gue sebagai wali kelas dimulai di tahun ajaran 2018/2019. Lulus kuliah di tahun 2016, yang awalnya jadi guru private, lalu ngajar di bimbel, jadi guru bahasa inggris untuk kelas 1,2, dan 3 sd, hingga akhirnya lolos CPNS dan bisa megang kelas sendiri.

Di tahun ajaran 2018/2019, gue megang kelas 1. Kelas 1b, tapi gue megang kelas ini dari semester 2 karena memang pengumuman CPNS keluarnya di pertengahan semester. Kebetulan juga guru kelas 1 yang awalnya memegang kelas ini lolos CPNS juga, tapi guru sebelumnya keterima di Bandung, jadilah gue menggantikan ybs sebagai wali kelas.

2019-2020 gue jadi wali kelas untuk kelas 6. Kelas 6C. Kalau tahun ajaran sebelumnya gue ngajar dari semester 2, di kelas 6C ini gue justru merasakan full ngajar hanya di semester 1, karena di semester 2 sekolah mulai pjj karena covid. Walaupun tetap mengajar via online, tapi rasanya beda dengan ngajar secara langsung.

Tahun ajaran 2020-2021 lagi-lagi jadi wali kelas untuk kelas 6. Kelas 6D. Kali ini satu tahun ajaran penuh, gue ngajar  anak-anak dengan metode pjj. Metode pjj ini bisa membantu sekali ketika ada pandemi seperti covid, dengan catatan peralatan yang dimiliki guru dan murid sama sama mumpuni, sementara di sekolah tempat gue mengajar dimana ekonomi para orangtua murid berasal dari kalangan menengah ke bawah, agak sulit untuk memaksimalkan pembelajaran dengan metode pjj ini. Tidak adanya kuota dan permasalahan hp yang lemot dan bahkan ada yang ngga punya hp, sering jadi alasan anak-anak ngga bisa mengikuti pembelajaran jarak jauh ini dengan maksimal.

Tahun ajaran 2021-2022, gue turun kelas ke kelas 5. Kelas 5C. Kali ini pembelajaran sudah mulai tatap muka, walaupun dengan protokol kesehatan yang ketat dan adanya pembagian kelas menjadi 2 supaya anak-anak tidak berdempetan, tapi masih lebih mending daripada harus full pjj.

Tahun ajaran 2022-2023, naik lagi jadi wali kelas untuk kelas 6. Kelas 6A. Di tahun ajaran ini pembelajaran sudah full tatap muka 100%, kegiatan belajar mengajar mulai kembali seperti sebelum covid melanda.

So yeah thats it sekilas perjalanan gue sebagai wali kelas. Kalau dipikir pikir aneh juga kalau gue ditempatkan menjadi wali kelas untuk kelas tinggi, langsung kelas 6 pula, padahal catatan mengajar gue sebelumnya lebih banyak pegang kelas rendah, untuk mengajar bahasa inggris pun gue megang kelas rendah. Antara anak-anak kelas tinggi (4,5,6) dan kelas rendah (1,2,3) tentu akan ada perbedaan, baik dari segi fisik maupun psikologisnya. Di perkuliahan pun sebagai guru pastinya ada mata kuliah tentang perkembangan peserta didik ini.

Nah, yang ngga ada di mata kuliah selama gue jadi mahasiswa adalah bagaimana cara menghadapi orangtua murid dengan karakter mereka yang lebih-lebih sulit ditebak. Sumpah, tiap tahun tuh kaya ada aja orangtua murid yang kelakuannya bikin geleng-geleng.

Sacrifice

Bulan lalu gue nonton film India berjudul The White Tiger, dan bulan ini gue nonton film Indonesia berjudul Ali & Ratu-Ratu Queens. Kalau dilihat dari alur cerita, tentunya dua film ini berbeda, tapi dua film ini punya sebuah kesamaan.

Kesamaan dua film ini terletak pada tokoh bernama Balram pada film The White Tiger dan Mia pada film Ali & Ratu-Ratu Queens.

Balram dan Mia sama-sama mengorbankan sesuatu untuk mewujudkan mimpi mereka, tidak mudah tentunya, but at the end, they did it, pengorbanan yang mereka lakukan membuahkan hasil, hasilnya manis atau ngga, tergantung sudut pandang penonton, apakah pengorbanan yang mereka lakukan sepadan dengan apa yang mereka korbankan?

Tapi memang bukannya hidup ini penuh dengan pengorbanan ya? I mean, pilihan apapun yang kita pilih, pasti mengorbankan hal lain yang ngga kita pilih.

Kalau lebih pilih belajar daripada tidur, yang kita mengorbankan waktu tidur kita. Ketika kita memilih untuk menikah, kita mengorbankan masa single kita, kehidupan yang lebih simple dibanding kehidupan pernikahan, tapi ketika kita lebih memilih single dibanding menikah, kita mengorbankan kemungkinan punya anak, punya pasangan yang bisa diajak kerjasama, kemungkinan menjalani kehidupan yang lebih seru dibanding hidup seorang diri, eh tapi bisa aja sih hidup seorang diri dan tetep seru-seru aja.

Gue suka bilang ke temen gue “kalo gue pilih opsi itu, gambling banget sih” seolah pilihan lain ngga gambling. Padahal mah, mau pilihan a,b,c, sampai z ngga ada yang bisa mastiin bakal gimana efeknya ke kita, bisa aja kan apa yang kita kira baik ternyata malah membawa kita pada keburukan.

Jadi menurut kamu, pengorbanan yang kamu lakukan selama ini worth it ngga?

Ada yang bilang...

Ada yang bilang kalau ada rezeki, sebelum memberi ke orang lain, berilah dulu keluarga. Tapi nyatanya, ngga semua orang punya keluarga yang layak untuk didahulukan, kadang teman malah lebih sering ada dibanding keluarga.

Ada yang bilang perempuan harus sudah menikah sebelum umur 30. Tapi nyatanya, ada perempuan berumur 30 keatas yang belum menikah tapi enjoy enjoy aja sama hidupnya, ada yang menikah sebelum umur 30 tapi pernikahannya kandas di tengah jalan, well tentunya ngga sedikit juga yang menikah sebelum umur 30 dan bahagia.

Guru les saya waktu SMP pernah bilang "orang kalau sudah pintar matematika, gampang memahami pelajaran lain, pasti sukses itu hidupnya". Nyatanya, ada orang yang ngga pintar matematika tapi tetap bisa sukses.

Ada yang bilang orang jahat akan kena karma. Nyatanya ada orang yang sudah melakukan banyak kejahatan, tapi hidupnya baik-baik saja.

Hidup ternyata penuh dengan ketidakpastian. Banyak yang bilang ini bilang itu, ada yang bicara karena memang peduli, ada yang justru punya maksud tersembunyi. Tapi yang jadi pertanyaan "apa ngga capek hidup dengan berdasarkan perkataan orang lain?"

Another question, "seandainya kita hidup tidak berdasarkan apa kata orang lain, ikuti apa yang kita suka aja, apakah kehidupan akan lebih menyenangkan?"

Donor Darah

Kemarin, salah satu senior gue nanya hal-hal terkait angkatan ekskul gue. Lupa-lupa inget sih, karena kejadiannya udah lebih dari 10 tahun yang lalu, gue yang tadinya akrab banget sama teman seangkatan di ekskul itupun sekarang udah lost contact. Menakjubkan sekali bukan dengan apa yang bisa dilakukan waktu. You didnt do anything, tapi tau-tau beberapa tahun kemudian jadinya udah beda banget sama apa yang terjadi di awal.

Tapi untungnya di blog ini, gue pernah menuliskan kisah-kisah gue ketika di ekskul itu, ngga banyak, tapi cukup, lalu jadi liat-liat postingan lain dan senyum senyum sendiri. Waw, dulu gue pernah begini, waw, dulu gue pernah nulis kaya gini.

So, at this moment, gue akan menuliskan pengalaman gue tentang donor darah.

Donor darah ini satu hal yang mau gue lakuin sejak gue masih duduk di bangku SMA, waktu itu ada kegiatan donor darah di SMA gue, gue mau banget ikut, tapi karena saat itu gue belom berumur 17 tahun, gue pun tidak bisa mendonorkan darah.

Beberapa tahun kemudian ketika sudah gue menginjak umur 17 tahun, di bangku kuliah, ada lagi syarat donor darah yang tidak bisa gue penuhi, yaitu berat badan. Berat badan gue ketika kuliah mentok di 43, sementara ketika itu bb minimal untuk donor darah adalah 45, bahkan sekarang ada juga yang mensyaratkan bb 50 untuk bisa donor darah.

Lulus kuliah lalu kerja. Gue inget banget ketika gue kuliah ada dosen yang bilang "kalian nih nanti kalau udah kerja langsung tuh badannya melebar, kalau jadi guru mah ada aja rezeki."

Saat itu gue ga percaya dong, ah mana mungkin, sekarang aja gue makan mulu, bb segini gini aja.

Tapi ternyata terbukti dong, setelah kerja, bb gue gampang naiknya, dari kuliah cuma mentok di 43, kerja bisa 53 bahkan lebih. Entah harus senang atau miris. Miris karena bb segini bisa membuat dagu gue berlipat, senang karena akhirnya memenuhi syarat untuk bisa donor darah.

Lalu muncul lagi masalah, donor darah ini bukan hal yang disukai banyak orang, temen gue yang donor ketika kita SMA, sehabis donor dia pusing dan muntah-muntah, kakak gue ngga mau diajakin donor karena sehabis donor pertama katanya lemes, intinya, nyari orang yang bisa diajak donor darah tuh susah.

Denger cerita dari temen dan kakak gue di atas tadi, lumayan bikin takut juga sih, takutnya gue abis donor lemes atau bahkan pingsan, makanya gue nyari temen yang dia biasa donor darah, karena kalau sama-sama pertama kali donor darah lalu dia juga sehabis donor ternyata lemes gimana dong? 

Setelah bertanya kesana kemari, melihat lihat kondisi teman, akhirnya ketemu lah sama temen yang biasa donor darah, bahkan udah 10 kali dia donor.

Akhirnya kita berangkat ke PMI Jakarta Timur, acaranya Komunitas Sahabat Donor Darah. Disana kita harus ngisi formulir yang pertanyaannya lumayan banyak, ada pertanyaan lisannya juga, lalu dicek berat badan, kadar hb dan tensi. Apa aja syarat donor darah? Kalau menurut artikel dari tirto.id, kurang lebih begini lah

Percobaan donor darah pertama berhasil dong, setelah donor ngga pusing atau mual, cuma badan rasanya seperti lebih enteng. Habis donor dikasih makanan dan obat penambah darah, dan tidak lupa kartu donor yang warnanya tergantung pada golongan darah. This is me, my happy face after blood donating, dan kartu donor berwarna biru karena golongan darah O dapatnya kartu warna biru.











Segitu dulu ceritanya, pokoknya aku senang bisa donor darah, dan semoga bisa selalu memenuhi syarat sehingga selalu bisa donor sesuai jadwalnya :)