Tapi kan orang gatau

Dari pertama kenal sama keluarga suami di tahun 2021, keluarga suami punya kebiasaan untuk berkunjung dan menginap di rumah Cijantung ketika idul fitri. Karena memang mereka punya rumah disana, dan karena bapak mertua punya saudara disana. Kebiasaan ini terus berlanjut sampai tahun 2025. 

Di 2026, mereka tidak berkunjung kerumah disana, hanya main ke rumah saudara, tidak menginap. Jangankan menginap, singgah sebentar pun tidak.

Padahal kami (saya dan suami) sudah menyiapkan segala hal untuk menyambut kedatangan mereka. Rumah mewah itu sudah dibersihkan selama 2 hari, makanan sudah tersedia di lantai atas dan bawah. Tissue, air untuk tamu.

Jujur, saat itu memang saya heran, rumah saudara yang kami kunjungi melewati rumah Cijantung, tapi saat itu saya positif thinking, mungkin memang ibu sedang malas untuk membungkus dan membawa makanan dirumah Cakung untuk dibawa ke rumah Cijantung.

Beberapa waktu kemudian baru tau alasannya. 

Kunjungan terakhir bapak dan ibu ke rumah itu ternyata membuat sakit hati bapak, bapak merasa kami tidak menyambut mereka sesuai dengan yang mereka harapkan, dan kalau diingat, memang benar. 

Di kunjungan yang ibu bapak maksud, sikap saya memang kurang enak. Saya tidak menyiapkan minuman, tidak bertanya "bapak dan ibu mau minum apa" ngobrol pun hanya sekedarnya.

Yang bapak dan ibu ngga tau:

Agenda kami ke rumah Cijantung dalam seminggu hanya di weekend, weekdays kami habiskan di rumah mertua. 

Minggu lalu, kami tidak ke rumah Cijantung karena mengantar bapak dan ibu kerumah lek yang sakit.

2 minggu tidak ditengok, debunya bukan main. 

Minggu lalu tidak kerumah Cijantung karena mengantar bapak dan ibu, minggu ini bapak dan ibu main ke rumah Cijantung.

Kami baru istirahat sebentar, rumah kami bersihkan seadanya, mereka datang. 

Pikiran ini dipenuhi bermacam hal. 

"kenapa kok untuk bisa family time rasanya sulit"

"rumah masih kurang bersih, rasanya ngga pantas"

"tubuh ini lelah, senin-jumat kerja, sabtu minggu harus beberes rumah besar yang lebih sering ditinggal daripada ditempati"

Impactnya sikap saya kurang dalam menyambut mereka. 

Tapi kan mereka ngga tau. 

Seperti ketika saya menutup pintu saat ada pacar main ke rumah (sebelum menikah).  Ternyata ada omongan macam-macam tentang itu. Padahal saya menutup pintu karena di teras banyak nyamuk, habis hujan juga, teras becek, untuk makan ngga enak. Saya ngga melakukan hal lain selain makan berdua. 

Tapi kan orang gatau. 

Mereka sibuk dengan asumsi mereka sendiri. 

0 komentar:

Posting Komentar