Aset

Sebagai anak yang tumbuh di keluarga yang tidak punya rumah sendiri sebagai tempat tinggal, buat gue rumah itu adalah sebuah hal mewah.
Waktu smp, sebagian besar teman gue hidup di kontrakan, banyak dari kami senasib. Bahkan ketika itu ngga jarang gue merasa bersyukur karena kontrakan teman gue adalah kontrakan sepetak yang letaknya masuk ke dalam gang, sementara rumah yg gue tempati adalah rumah dinas nyokap yang halamannya lumayan luas.
Tapi ketika sma, sebagian besar teman gue berasal dari keluarga menengah ke atas. Sebagian besar dari mereka tinggal di rumah yang dimiliki orangtua mereka, bukan kontrakan, bukan rumah dinas.
Maka ketika ada laki-laki yang mendekat dengan “value”, orangtuanya sudah menyiapkan rumah untuk anaknya, hal itu secara ngga langsung membuat gue silau. 
Nyokap gue sendiri baru tinggal di rumah milik dia setelah gue menikah. Setelah bertahun tahun ngontrak atau tinggal di rumah dinas.
Kalau kakak gue, ketika awal menikah, kami mengantar kakak ke rumah kontrakannya, dalamnya jauh dari siap. Entah apa yang di pikiran kakak gue, sehabis mengantar kakak, nyokap nangis.
Setelah itu, kakak tinggal di apartemen yg nyokap beli. Nyokap ngga pernah ngusik cara kakak gue tinggal disana, tidak pernah mengomentari harusnya begini begitu.
Gue kira semua orangtua begitu.
Tapi ternyata ada tipikal orangtua yang “menuntut”
“Gue udah kasih rumah, dirawat dong rumahnya.”
“Kalian enak habis nikah sudah ada tempat tinggal, ngga seperti kami dulu.”

Bapak ibu yang saya hormati.
Saya bersyukur, sungguh memang saya akui posisi saya sangat nyaman kala itu, rumah sudah ada, full furnished. Mengeluh pun rasanya malu.
Tapi….
Rumah mewah itu hanya kami tempati saat weekend atau libur karena tempat kerja yang jauh.
Rumah yang jarang ditempati ternyata lebih rawan rusak ya, orang-orang bilangnya begitu, ngga ada hawa kehidupan bisa membuat rumah cepat rusak.
Ada juga bagian rumah yang dari awal kami datang sudah rusak, dibetulkan rusak lagi. Entah apa yang salah.
Rumah besar ternyata biaya listrik juga besar. Dalam sebulan kami menempati rumah itu hanya di waktu libur/weekend, tapi tagihan listriknya seperti tinggal sebulan di rumah umumnya (perihal listrik ini, teman yang saya ceritakan pun kaget).
Kami capek. Tiap datang, rumah pasti dalam keadaan kotor. Kami kerja di senin-jumat, dan harus membersihkan rumah mewah itu di hari sabtu-minggu. Belum lagi jika kalian berkunjung lalu berharap dijamu sedemikian rupa, belum lagi kekecewaan kalian dengan rumah yang tidak sesuai dengan ekspektasi kalian.
Tapi ya bagaimana, kami jarang menempati rumah ini, lebih banyak kami tinggal disana tempat kalian, dekat tempat kerja kami.
Kenapa sih kalian lebih pilih tinggal di rumah yang dekat dengan tempat kerja kami? Padahal kalian punya rumah mewah yang kalian bangga banggakan ini? Rumah yang kami ngga sanggup urus.

0 komentar:

Posting Komentar