Why I’m Afraid of People
Diposting oleh Siti Hana Listiani di 03.15
Di umur memasuki kepala 3, dengan profesi yang mengharuskan bertemu dengan banyak orang, sebetulnya malu juga untuk mengakui bahwa gue sampai saat ini takut sama orang.
Rasa-rasanya dari kecil, banyak banget perkataan/perbuatan orang yang nyakitin. Bahkan ngga jarang hal tersebut berasal dari orang yang tadinya kita percaya.
Seperti hari ini, someone just said:
“Trauma nih anaknya, jadi lengket banget sama maminya. Bisa tidur kamu kemarin ninggalin anak begitu?”
It hurts me, dia udah pasti tau jawabannya.
Ngga ada ibu yang dengan senang hati meninggalkan anaknya kalau bukan karena suatu hal yang pelik banget.
Even kalau anak gue tadi lengket ke bapaknya, gue yakin dari mulut dia bakal keluar kalimat
“Nah kan lebih lengket sama bapaknya, ibunya sih pake segala ninggalin anaknya”
Selalu ada cara untuk memojokkan/menyalahkan seseorang.
Sama seperti selalu ada cara untuk melihat dari sisi lain.
Dan bodohnya, gue cuma bisa diam, ngga bisa langsung nge counter saat itu juga. Tapi memang serba salah sih, di counter juga pasti nanti dianggap ga sopan sama orangtua.
Saya masih butuh waktu mencerna semua ini. Ini bukan hal mudah.
Memang manusia tuh jahat ya.
Semoga Allah menjaga saya dari menyakiti orang lain.
April 2026.
Di bulan dan tahun ini ternyata masih banyak keinginan yang belum tercapai, juga dengan ketakutan-ketakutan yang entah akan terjadi atau hanya berakhir menjadi skenario di kepala.
2016, 10 tahun lalu.
Di bulan April 2016 mungkin ketakutan terbesar gue adalah sidang skripsi, mau kaya teman yang lulus 3,5 tahun udah ngga mungkin karena mereka sudah wisuda di bulan Maret. Cuma mau lulus tepat waktu biar ngga nyusahin orang tua, biar bisa wisuda bareng teman-teman. Tapi takut. Takut revisi, takut sidang, takut kalah sama diri sendiri.
Bulan September 2016 jadi salah satu momen besar di hidup gue. Wisuda sarjana. Ketakutannya berubah. Kali ini takut ngga dapet kerja, takut ngga dapet jodoh.
Lalu kerja, ketakutannya berubah lagi, begitupun keinginannya.
Menikah, ketakutannya berubah lagi, begitupun keinginannya.
Padahal kalau dipikir-pikir, hidup polanya gitu-gitu aja ya. Kita achieve something in live, tapi pencapaian tersebut ternyata sepakat dengan masalah, lalu timbul ketakutan-ketakutan yang kadang jadi nyata, kadang hanya di kepala.
Tapi kenapa ya diri ini seperti orang bodoh yang ngga pernah belajar.
Untuk lebih menikmati hidup, untuk paham bahwa masalah itu ya bagian dari hidup.
Jadi inget salah satu quotes dari twitter.
"untuk apa takut? Toh hal buruk PASTI akan terjadi"
Hidup itu ternyata fragile banget ya. Rapuh, ngga bisa diprediksi.
Orang yang kita kira baik ternyata di kemudian hari jadi orang yang membuat hidup kita makin sulit.
Orang yang tadinya kita ngga suka malah jadi sahabat dekat.
Kondisi-kondisi yang meleset dari prediksi kita.
Bener-bener ngga ada yang tau apa yang akan terjadi di kemudian hari, jam atau bahkan detik.
Kita kira kita akan siap, ternyata kita ngga pernah benar-benar siap.
Jangankan kondisi di luar, diri sendiri aja ngga ketebak.
Maunya dibawa happy, tapi terlintas hal yang bikin kita ngga happy.
Lagi pengen marah sama hidup, tapi kemudian ingat, marah pun ngga ngubah apa-apa.
Gue harap gue bisa lebih happy lagi menjalani hidup yang fragile ini, lebih positif thinking, lebih less overthinking.
Btw happy birthday to me. 31 isnt that old right?
Voices in my head (pattern didn't lie)
Diposting oleh Siti Hana Listiani di 23.02
Di usia 30 ini rasanya hampir semua quotes yang gue temui itu adalah quotes yang udah pernah gue baca sebelumnya.
Dulu, pertama kali baca suatu quotes hampir selalu respon gue adalah "wah", "ih bener nih", "ih keren quotesnya".
Sekarang, hampir tiap baca quotes-quotes itu respon gue "alah tai"
Mungkin karena banyak quotes yang isinya kata-kata indah yang meromantisasi suatu keadaan secara berlebihan, padahal hidup tuh ngga semudah quotes-quotes itu. Seringnya hidup ya kaya tai. Hidup gue sih.
Tapi gue pernah nemu sebuah bacaan, yang pada intinya ngasi tau kalau pattern didn't lie. Kata-kata yang keluar dari mulut seseorang ngga bisa jadi tolak ukur, tapi pola seseorang bisa jadi penilaian. Karena pattern atau pola itu terbentuk dari tingkah laku yang berulang kali dilakukan, jadi sebuah kebiasaan, jadi sebuah karakter.
Memasuki tahun ke 5 pernikahan, rasanya bukan makin kenal, pasangan gue justru berubah jadi sosok yang makin asing. Rasanya tiap hari membatin "I didn't married this guy".
Tapi lalu gue teringat bagaimana sikapnya dulu di awal-awal kita kenal.
Dia memang ngga pernah menunjukkan rasa ketertarikan ketika itu.
Dia ngga datang saat bokap kandung gue meninggal, padahal kemarin ada istri teman yang meninggal malam-malam, tanpa pikir panjang dia datang melayat malam itu juga.
Waktu pertama kita naik gunung bareng, dia ngga ada perhatian-perhatiannya.
Ketika kami lumayan dekat dan ada masalah kecil, dia dengan santainya bonceng teman wanita lain disaat bisa aja dia milih bonceng gue. Sepele, tapi terlihat ngga ada effortnya.
Dia lebih milih nganter cewek lain beli laptop dibanding nemenin gue cuci mobil. Alasannya karena sudah janji ke cewek itu dari jauh hari, tapi kamu juga janji kan mau nemenin aku nyuci mobil.
Pola-pola yang bikin gue membatin "kenapa kaget sama sikapnya sekarang? Toh dari dulu memang dia ngga nunjukin tanda sayang"
Kamu emang ngga cinta kan sama aku?
Voices in my head (part 1)
Diposting oleh Siti Hana Listiani di 18.15
Akhir-akhir ini suara di kepala lagi rame banget. Hari ini ngeributin a, besok b, besok c. Kadang yang udah disuarain hari ini muncul lagi 2 hari atau 3 hari kemudian. Jadi mau nulis disini sekalian mengurai apa aja sih yang diberisikin di kepala.
Kenapa harus bilang ke mama?
Beberapa hal yang membuat gue mikir kalau mertua gue ngga sebaik yang orang-orang bilang, beberapa di antaranya dari apa yang gue rasakan, ada juga dari omongan orang yang pernah momong anak gue, tapi yang satu ini kayanya ngga bakal bisa gue lupain deh.
Jadi memang ada momen ketika ibu mertua gue ini ribet karena mobil. Mobil mertua ini mobil tua yang udah lebih dari 10 tahun, bapak mertua udah ngga bisa bawa lagi karena matanya. Jadi kebanyakan mobil ini ngga dipake, beberapa kali malah pakenya mobil adeknya ibu mertua (lek).
Sementara itu, mobil ini walaupun ngga dipake, pajak tahunan tetap jalan, servis juga. Itu aja akinya rusak karena ngga dipake pake.
Maka, ngga aneh dong kalau keluar usulan dari gue "mobilnya dijual aja, daripada bayar pajak dan servis terus, pajak mobil juga setahun lumayan, bisa 5 jutaan."
And she complains a lot tentang pajak dan servis.
Ya minta laki gue ngurusin pajak supaya pajaknya bisa turun.
Ya aki rusak nyalahin laki gue lah karena ngga mau bantuin orangtua ngurus mobil.
Lalu ujung ujungnya gue kena juga. Ya guelah ngelarang laki gue buat gerak, ya salah guelah ngga ngingetin laki gue.
Padahal ngga pernah gue ngelarang-larang laki gue buat berbuat ini itu, apalagi buat bantu orangtuanya. It much better daripada ngeliat dia main game terus. Tapi kan emang laki guenya yang begitu.
Lalu keluarlah usulan untuk jual mobil dari gue, gue bilang ke laki gue, laki gue bilang ke bapak mertua, bapak mertua setuju, bapak mertua bilang ke ibu mertua, ngga setuju, katanya adeknya laki gue yang abk suka nanyain mobilnya itu.
Lalu reaksi gue: Yaudah.
Ibu mertua gue ngga setuju, yaudah, gue ngga maksa, gue bukan menantu jahat yang mau menguasai harta mertuanya, bukan orang bodoh yang ngga bisa dibilangin. Gue paham.
Tapi beberapa waktu kemudian, lamaaa setelah gue mengeluarkan usulan itu, ketika laki gue berulah, mertua gue whatsapp nyokap gue yang intinya.
"Jangan nyuruh orang jual mobil. Mobil juga yang bayar pajak saya, yang bayar servis saya, ngapain nyuruh-nyuruh orang jual mobil."
No, I wont forget this.
Things I shouldn't buy a lot
Diposting oleh Siti Hana Listiani di 06.01
Bip Bip, What Time Is It?
About Me
Popular Posts
-
Per tahun 2025 ini udah 16 kali gue donor darah. Menyenangkan rasanya setelah donor darah. Permasalahannya adalah akhir-akhir ini, gue gagal...
-
Di umur memasuki kepala 3, dengan profesi yang mengharuskan bertemu dengan banyak orang, sebetulnya malu juga untuk mengakui bahwa gue sampa...
-
Akhirnya gue bisa nonton film lagi setelah sekian lama ngga nonton. Setelah beberapa menit scroll judul judul film, akhirnya pilihan g...
-
Hari ini kami ngobrol lumayan banyak. Sebetulnya masih takut ngobrol sama dia, takut salah ngomong, takut dengan nada bicaranya yang kaya or...
-
Tanggal 30 July kemarin, kepsek tempat gue ngajar ulangtahun ke 60. Sesuai aturan, usia pensiun guru (termasuk kepsek) adalah 60 tahun. Arti...
-
Pada kesempatan kali ini gue akan membahas dua buku, kenapa? Karena kedua buku yang akan gue bahas ini punya judul yang hampir mirip, atau ...
-
Tahun ini umur gue 26, di umur gue yang segitu gue ngerasanya gue gampang banget capek. Cuma ketak ketik hp yang ngga berkaitan dengan kerja...
-
Waktu SMA gue punya teman ekskul, 2 orang, sebutlah A dan E. A dan E ini lumayan dekat sih kalau sepenglihatan gue, mereka dari 1 SMP yang ...
-
Kayanya benar kalau saya orang yang ngga punya prinsip. Di tahun 2019 bapak kandung saya meninggal, lupa tanggal persisnya, yang saya ingat...
-
Di usia 30 ini rasanya hampir semua quotes yang gue temui itu adalah quotes yang udah pernah gue baca sebelumnya. Dulu, pertama kali baca su...
Penayangan
Followers
Powered by Blogger.

