Kenapa Menua?

Tahun ini umur gue 26, di umur gue yang segitu gue ngerasanya gue gampang banget capek. Cuma ketak ketik hp yang ngga berkaitan dengan kerjaan aja, bisa bikin gue ngantuk, padahal 3 tahun lalu ketika gue umur 23, gue harus ngejalanin 2 kegiatan yang lumayan nguras energi. Berangkat dari rumah sehabis subuh dan bisa pulang kerumah jam 9 malam lebih, belum lagi tugas yang didapat dari 2 kegiatan itu. Tidur lewat jam 12 malam udah kaya rutinitas. Tapi kuat-kuat aja, gue berhasil ngelewatinnya dengan sehat walafiat.

2 tahun kemudian setelah 2 kegiatan yang menguras pikiran dan energi itu, di usia 25 tahun, gue ngerasa badan gue gampang banget lelah. Baru bangun tidur, 2 jam kemudian udah ngantuk lagi, dibawa tidur, bangunnya pusing. Apa yang salah dengan badan ini?

Apakah aku menua? Tapi kalau dibilang menua, ada-ada aja yang udah kepala 4 atau bahkan kepala 5, badan tetap fit sehat bugar. Ya walaupun ada juga yang kepala 3 yang kondisinya tidak begitu fit.

Lalu apa yang menjadikan kita menua dan mengalami fase penuaan yang berbeda?

Gue mau jiwa dan raga gue tetap fit kaya anak SMA, bisa ngga ya?

Wah kalau bisa sih bersyukur sekali. SMA kegiatan gue lebih waw lagi. Belajar, ekskul, les. Ekskulnya juga yang maen fisik banget, belum lagi ada senam bersama dan pelajaran olahraga seminggu sekali, terus juga kudu naek turun tangga untuk ke kelas.

Wait.

Gerak. Itu gasih yang berkurang dari kita seiring bertambahnya usia? Kalau di sekolah (mostly) kan ngga ada lift, jadi ya mau naek turun harus lewat tangga, sedangkan ketika kerja kita banyakan di depan komputer, istirahat mau turun udah ada lift. Ekskul dan les juga ngga ada, ngerasanya badan udah capek karena banyak pikiran di tempat kerja, tapi ternyata fisik kita tuh kurang gerak. 

Iya gasih? wkwk. Sekian dulu dah ah sotoy sotoyannya, emang ada aja gitu yang kepikiran.

Learn it from the hard way

2020 tahun paling nano-nano buat gue. Sebagian keinginan gue tercapai di tahun ini, tapi di sisi lain, ada hal buruk yang harus gue hadapi. Hal yang ngga pernah gue sangka-sangka, ngebayanginnya pun enggan.

The happy part? gue bisa ngerasain kerja yang ngga harus ketemu orang langsung, gue punya pacar di tahun ini (ini gatau sih bakal happy ending atau ngga), ngerasain penghasilan tambahan pertama kali di tahun ini, dan ngga harus dandan berlebih ke kondangan, karena ketutupan masker (ini yang paling bikin seneng sih)

Bagian sedihnya? Harus keliling-keliling rumah sakit untuk sebuah kamar rawat untuk nyokap, nyokap kena corona, harus ngurusin tetek bengek rumah sakit sendirin, pandangan dan perlakuan orang-orang setelah tau nyokap kena corona, rencana-rencana yang harus gagal karena kejadian ini.

Dan barusan kepikiran, apa ini jawaban atas doa gue "dekatkan dengan yang baik dan jauhkan dari yang jahat". Jadi tau yang mana yang peduli sama kita, yang mana yang malah keliatan busuknya. Bahkan saudara yang selalu kita bantu aja ternyata ngga ada batang hidungnya disaat ada musibah kaya gini.

Gue udah lama tidak membuat resolusi disaat pergantian tahun, tapi tahun 2021 ini tolonglah biarkan gue napas lega dulu tanpa kejutan-kejutan yang tidak menyenangkan. 2019 dan 2020 udah cukup bikin gue pusing, udahlah plis 2021, be nice to me.

Tapi siapalah saya, hanya manusia biasa, yang ngga tau 1 detik kemudian akan terjadi apa.

Being Adult

 Waktu gue masih duduk di bangku sekolah dasar, ngeliat kakak gue yang saat itu SMA kemudian kuliah dan kerja, rasanya jadi dewasa itu menyenangkan sekali. Punya pacar, bisa jalan jauh, bisa nonton semua film.

Time flies, turns out menjadi dewasa ternyata tidak semenyenangkan yang gue bayangkan waktu kecil. Menjalin suatu hubungan ternyata ngga mudah, hubungan dengan pacar bisa kandas di tengah jalan, teman yang selama ini selalu kita utamakan ternyata ngga ada di saat kita terpuruk, rencana-rencana yang dibuat dengan penuh optimisme satu persatu berguguran dihempas kenyataan, dan bisa nonton semua film ternyata ya udah gitu aja, ngga spesial spesial amat.

Ketika masih anak-anak mau buru-buru dewasa supaya bisa nyoba berbagai hal, tapi ketika udah dewasa malah pengennya balik lagi ke masa anak-anak, ketika semua hal masih begitu sederhana, tidak serumit saat dewasa.

Ketika dewasa akan banyak hal-hal yang membingungkan, temen lu yang ngga pernah ibadah ternyata hidupnya lebih baik dari lu yang masih inget ibadah, orang yang ngelakuin hal jahat, tapi turns out hidupnya mulus-mulus aja, mana karma?

Pilihan-pilihan yang diperjuangkan setengah mati ternyata berbuah kekecewaan, sebaliknya, pilihan yang dijalani setengah hati malah berbuah manis. Lho kok bisa begitu?

Kita diajarkan gaboleh berjudi di agama, tapi hidup itu sendiri ternyata sebuah perjudian. Kita ambil sebuah keputusan, dan mempertaruhkan hidup kita, kalau menang kita dapat untung, tapi kalau ternyata pilihan yang kita ambil salah ya....

We never know what we gonna get in life.

And as far as I know, adult life is confusing.

Cukup lama buku karya Roanne Van Voorst yang berjudul Tempat Terbaik di Dunia ini jadi salah satu wishlist, penasaran, tapi pas tahun 2019 gue cek ternyata yang jual buku ini masih jarang banget. Di awal tahun 2020, gue cek lagi di salah satu e commerce favorit, ternyata sekarang yang jual buku ini udah lumayan banyak, dengan harga buku dibawah 100 ribu, yang mana termasuk murah.

Tapi hal itu ngga serta merta bikin gue check out ini buku, ada beberapa alasan, diantaranya masih ada beberapa buku yang belum gue selesaikan, gue yang sedang berusaha mengurangi pembelian buku fisik dan beralih ke ebook, dan yang tidak kalah pentingnya adalah, gue nunggu ada event yang menjadikan buku ini didiskon (hehe)

Tapi akhirnya gue beli juga buku ini, nunggu ebook gatau kapan, diskonan pun ngga ada (mungkin karena sudah tergolong murah), nunggu buku lain selesai dibaca kelamaan.
Gue penasaran dan tertarik sama buku ini karena liat sampulnya, dengan tagline "Pengalaman Seorang Antropolog Tinggal di Kawasan Kumuh Jakarta" tapi judul bukunya Tempat Terbaik di Dunia? Jadi tempat terbaik di dunia menurut penulis (Roanne) adalah di tempat kumuh? Kenapa bisa dibilang begitu? 

Latar belakang penulis juga menarik perhatian, Roanne Van Voorst adalah seorang antropolog Belanda melakukan penelitian di salah satu kawasan kumuh di Jakarta, yang artinya Roanne adalah orang berpendidikan dan juga berasal dari salah satu negara yang tingkat kesejahteraannya diatas Indonesia, tapi dia bilang sebuah kawasan kumuh di Jakarta adalah tempat terbaik di dunia? How can? dari sudut pandang apa?

Untuk jawab pertanyaan itu satu-satunya cara ya baca buku ini. Menurut gue bukunya asik, ga bikin bosen, soalnya gue selesai baca buku ini cepet. Hehe, disaat makin bertambahnya umur, makin bertambah pula kesibukan, jadi bisa selesaikan membaca buku dalam waktu tidak lama itu suatu kemewahan sih.

So, happy reading guys!!

Meaning Of Life

Next year, I will be 26 years old. 

Berada diantara umur 20 dan 30an ini emang bikin insecure ga sih? Buka instagram, teman-teman pada posting sama pasangannya, sama anaknya, sama keluarga barunya, buka twitter orang-orang pada pamer gaji 2 digitnya, buka facebook liat foto-foto masa lalu jadi kangen, pengen balik lagi, syukur-syukur bisa memperbaiki keadaan di masa lalu, tapi kalau gabisa, ya gapapa lah balik aja. Things seems easier that moment.

Kalau di umur gue saat ini, 25 tahun, gue lagi sering-seringnya mikir, apasih arti kehidupan? Hal-hal yang dulu gue anggap penting sampai dikejar sebegitu ambisnya, ternyata sekarang ngga jadi apa-apa. Orang-orang yang dulu jadi bagian penting hidup kita, sekarang jadi asing. It's confusing actually. Rasanya mau uninstal semua social media, tapi butuh juga.

Kalau aja....

Hampir selalu muncul kata "kalau aja". Kalau aja dulu gue bisa lebih...., kalau aja dulu gue pilih jurusan kuliah..., kalau aja dulu gue ngga ambil...

Did I need professional help? It's getting difficult to find someone for sharing at this age, sudah punya kesibukan dengan keluarganya, pekerjaannya, atau ya sibuk aja sama diri sendiri. Menurut gue, gue bukan pendengan yang buruk, ya walaupun ngga bisa dibilang yang terbaik juga. Tapi gue tau etika, when people talk, listen to them, sampai selesai, baru ngomong.

That simple, isnt it? Tapi kenyataannya, gue coba buka diri, ketemu teman, I listen their story, didnt interrupt them, tapi ketika gue mulai ngomong, ngga lama mereka ngomong tentang mereka lagi. Sesulit itu menemukan orang yang bisa diajak sharing. 

Jadi ngga fokus ya tulisannya, judulnya apa, yang dibahas apa. I dont know why I came here too, its been a long time since I write here, but I think writing helps.


NB: to my sister, you didnt need to tell me that I'm ugly, I know it, your sister didnt even have boyfriend or a lot of friends at her age, did you think she didnt realized that she ugly?

Book Review: Filosofi Teras (Henry Manampiring)

Self improvement, salah satu genre buku, atau dalam bahasa Indonesia "Pengembangan diri". Gue inget buku bergenre pengembangan diri yang gue baca pertama kali itu Chicken Soup For Teenage Soul. Inget karena setelah baca itu gue jadi semangat banget, semangat untuk praktekin apa yang dibilang buku itu di dunia gue, seakan akan semua masalah hidup yang gue hadapi bisa teratasi kalau gue menerapkan tips-tips yang ada di buku itu.
Tapi ternyata hidup tidak semudah apa yang dibilang di buku itu, masalah ngga begitu saja hilang setelah kita melakukan tips yang ada di buku, malah terkadang karena terlanjur menaruh harapan tinggi, kita jadi kecewa ketika hasilnya tidak seperti yang diharapkan.
Kegagalan penerapan tips yang ada di buku Chicken Soup For Teenage Soul ngga begitu saja bikin gue trauma untuk baca buku bergenre pengembangan diri, The Secret, Communication That Works, What I Wish I Knew At 18, dan masih ada lagi buku-buku pengembangan diri yang gue baca dengan tujuan meningkatkan kualitas diri gue.
Tapi lagi-lagi, ngga segampang itu ternyata, gue yang ngga pede an kalau harus ngomong di depan umum ini ternyata ngga begitu saja lancar setelah baca Communication That Works, atau gue ngga bisa mengubah kebiasaan gue begitu saja dengan berpikir positif seperti yang ada di The Secret. 
Setelah beberapa buku itu gue jadi males baca buku perkembangan diri, sempat pesimis juga ketika ada temen baca buku pengembangan diri dan bilang buku itu bagus. Like "yea, it's not that easy dude"
Cukup lama merasa pesimis sama buku pengembangan diri, dari masih kuliah sampe udah kerja beberapa tahun.
Kemudian... di 2020, tertarik untuk baca Filosofi Teras. Buku ini sebenernya udah terbit dari 2019, dan gue pun udah lama berniat untuk baca buku ini, tapi ya itu tadi, maju mundur karena ini buku pengembangan diri.
Dari judulnya udah bikin penasaran sih, kok filosofi teras, teras kan ubin, emang apa yang mau diteladani dari ubin? Belum lagi tagline buku ini "Filsafat Yunani-Romawi Kuno Untuk Mental Tangguh Masa Kini" jadi gimana? mental tangguh masa kini tapi pake metode zaman yunani-romawi? Metode baru yang mutakhir aja belum tentu bisa buat mental tangguh, ini metode zaman kapan tau.
Belinya pun ngga terencana sebetulnya, gue yang saat itu diminta teman untuk nemenin dia beli buku tau-tau aja ngambil buku itu. Huwaw....
Kalau dari segi ukuran, buku ini termasuk berukuran kecil dibanding buku-buku yang gue punya dirumah, dan fontnya juga lebih kecil, untuk orangtua yang matanya mulai susah ngeliat dekat mungkin kesel ya sama font yang kecil ini.
Yang membedakan buku Filosofi Teras dengan buku pengembangan diri yang lain adalah buku ini ngga menuntut kita harus ini  itu supaya kita bisa lebih pede, lebih kuat, lebih kaya (?). Justru di buku ini kaya dikasih pemakluman sama apa yang ngga dapat kita raih, bahwa ada hal yang dapat kita kontrol dan ada yang tidak, dan hal yang gabisa di kontrol itu ya gabisa diapa apain, mau misuh-misuh pun cuma akan membuat keadaan lebih buruk, lebih baik kita alihkan energi untuk hal-hal yang masih ada dalam kendali, yang masih kita kontrol. 
Ngga cuma itu, ada yang lain lagi, tapi untuk saat ini, yang paling gue inget dan juga paling berguna ya yang tadi itu.
So, is it worth to read? Yes, its worth to read, tapi seperti biasa, efek yang dapat dirasa ya kembali lagi ke individu masing-masing. Apakah mereka mau untuk konsisten menerapkan apa yang ada di buku ini dalam kehidupan mereka?

Manusia Serba Bisa

Pernah nonton Yes Man? Film keluaran tahun 2008, pemeran utamanya Jim Carrey. Bukan termasuk film favorit gue sih, tapi harus gue akui film ini sangat menghibur dan membekas di ingatan, karena ada beberapa film yang gue ngga inget, kaya samar-samar gitu, "ya gue tau nih filmnya, tapi apa ya judulnya?"

Tapi yes man ini ngga, ceritanya juga unik, pemeran utama yang awalnya orang yang pesimis sampe orang sekelilingnya kesel, lalu ikut sebuah seminar dimana dalam seminar itu dia melakukan sebuah perjanjian, dan perjanjiannya itu mengubah hidupnya.

In real life, kita pasti ketemu dua jenis orang ini, yah, ngga se ekstrim di film itu sih, dimana dia harus bilang "iya" sama apapun. Tapi ya, di kehidupan nyata ada aja orang yang kelihatan serba bisa. I admire this kind of person, rasanya kalau sekelompok atau ada urusan sama dia tuh ada aja jalan keluarnya, orang kaya gini kalau ada tugas kelompok gabakal dapet kelompok ampas, you know, kelompok sisaan yang anggotanya anak-anak yang kelompok lain gamau nerima, kelompok lain udah penuh sementara mereka belum dapat kelompok, jadilah mereka sekelompok, dipersatukan oleh takdir. 

Manusia serba bisa ngga akan ngalamin itu, karena ketika guru bilang "ini tugasnya dikerjakan berkelompok ya", teman-teman nya pasti langsung ngelirik dia, berlomba-lomba untuk bisa sekelompok sama si manusia serba bisa.

Kebalikan dari manusia serba bisa, ada si manusia serba gabisa. Kalau manusia serba bisa selalu dapat melihat jalan keluar dari suatu masalah, manusia serba gabisa justru selalu melihat kesulitan dari segala hal, kaya ada aja gitu alasan untuk ngga melakukan sesuatu, bahkan dari hal-hal mudah kaya cuci piringnya dia sendiri sehabis makan, nemu aja alasan supaya dia ngga ngelakuin itu.

If you ask me, what kind of person I am? Sejujurnya semakin tua, semakin gue ngerasa kecewa sama diri gue, kalau di film yes man si pemeran utama mengalami perubahan dari si pesimis ke si optimis, kalau gue malah kayanya berubah dari manusia serba bisa ke manusia serba gabisa.

Gue pernah mengalami diperebutkan dalam pembentukan kelompok, ada teman yang biasanya ngga deket tiba-tiba ngedeketin karena mau sesuatu dari gue, tapi makin kesini gue ngerasa diri gue berubah dan perubahannya bukan perubahan yang baik, dari gue dapet kelompok ampas pas sekolah, lalu gue yang nemu aja sisi negatif dari suatu hal. And you know what? Its tiring, melelahkan sekali, selalu merasa ketakutan, khawatir akan hal-hal yang belum tentu kejadian.

Tapi karakter seseorang itu kan ngga begitu saja muncul tiba-tiba, pasti ada variabel-variabel yang menyebabkan seseorang mempunyai karakter tertentu, entah itu dari keluarga atau lingkungan sehingga akhirnya membentuk karakter orang ini. The question is,can someone change without those variabel, bisa ngga ya seseorang itu berubah tanpa ada pihak ketiga yang mendorong dia untuk berubah? berubah hanya karena dirinya sendiri yang ingin melakukan perubahan.

So, tell me, can I?